KETERPIHAKAN YANG TIMPANG

Posted on 21 Juni 2010

0


KETERPIHAKAN YANG TIMPANG

Pada akhir tahun 2009, lebih dari 1 milyar orang -atau seperenam penduduk dunia- akan mengalami kekurangan gizi. Demikian laporan dua lembaga PBB melaporkan pada hari Rabu, 14 Oktober 2009 yang lalu. Jumlah orang yang mengalami kelaparan meningkat kira-kira 100 juta dalam setahun – sebagai dampak dari parahnya krisis e…konomi sejak Depresi Besar.

“The State of Food Insecurity” -kondisi darurat pangan- yang dikampanyekan oleh lembaga-lembaga PBB, yaitu FAO (Food and Agriculture Organization) dan WFP (World Food Programme), menjelaskan bahwa peningkatan secara tajam kelaparan global tidak disebabkan oleh kegagalan panen ataupun bencana alam, melainkan disebabkan oleh ulah manusia, yaitu mahalnya harga pangan, meningkatnya pengangguran dan menurunnya nilai riil penghasilan atau upah.

Sementara itu, pemotongan/pengurangan nilai donasi kepada WFP hanya menyisakan jumlah sekitar 58% dari anggaran tahun lalu. Hal ini memaksa dilakukannya pengurangan dana bagi operasi penyelamatan pangan.

Laporan tersebut mencatat bahwa peningkatan kondisi ‘kurang gizi’ menandai berlangsungnya intensifikasi kecenderungan (‘trend’) jangka panjang. Kelaparan meningkat sejak awal 1990an. Bahkan sebelum terjadi krisis pangan dan krisis ekonomi, jumlah orang yang kelaparan telah meningkat secara konstan meski lambat. Menurut catatan majalah Forbes, di dunia terdapat 224 keluarga yang memiliki kekayaan pribadi yang bernilai US$ 2,9 milyar atau lebih. Dana yang dialokasikan melalui WFP untuk menyediakan pangan kepada orang miskin dunia hanya berkisar sekitar 2% yang merupakan nilai yang dibagikan oleh bank-bank di Wall Street sebagai gaji dan bonus kepada bankir top-markotop. Justru para bankir itulah yang secara sembrono melakukan spekulasi yang memicu krisis ekonomi yang mengakibatkan jutaan orang kelaparan. Tentu saja, apabila uang yang bernilai US$ 2,9 milyar apabila disumbangkan untuk membantu mereka yang kelaparan – hanyalah merupakan jumlah yang sangat kecil dibandingkan nilai dana yang telah dimobilisasi oleh Pemerintah untuk menolong bank-bank terbesar di dunia.

APAKAH PEMEMERINTAH RI MENYADARI HAL INI?

Dalam tahun 2006 – 2008, kekurangan pangan menjadi relaitas global – dengan harga yang semakin mahal yang tak terjangkau oleh sebagian besar orang. Badan-badan internasional amat sangat terkejut dengan peringatan World Food Program bahwa kurangnya secara drastis cadangan pangan… tidak dapat disamakan dengan keadaan darurat.

Akibat dari kenaikan harga,-sekitar 30% pada tahun 2006- maka gandum dan minyak hayati, dana impor pangan dari negara-negara miskin meningkat 37% dalam tahun 2007 – 2008 -senilai dari US$ 17,9 juta hingga US$ 24,6 juta. Pada akhir tahun 2008, PBB melaporkan bahwa impor pangan tahunan bagi cadangan pangan impor di negara-negara miskin bernilai tiga kali lipat dari harga tahun 2000; hal ini bukan disebabkan oleh meningkatnya volume impor pangan, melainkan diakibatkan oleh meningkatnya harga pangan. Situasi yang sedemikian parah ini membawa konsekuensi bertambahnya sekitar 75 juta orang dalam kelompok yang kelaparan. Selanjutnya, hal tersebut akan medorong sekitar 125 juta orang di negara-negara berkembang ‘merosot’ ke dalam kategori kemiskinan yang amat sangat.

Ditandai dengan permintaan glocal yang besar-besaran, negara-negara seperti Cina dan Argentina telah mengenakan pajak atau kuota terhadap ekspor beras dan gandum guna mencegah kurangnya pangan di negaranya. Ekspor beras telah dilarang di Kamboja, Mesir, India, Indonesia, dan Vietnam. Solidaritas Selatan – Selatan,-yang ternyata sangat rapuh-, ‘berantakan’, menjadi korban sebagai dampak sampingan krisis tersebut.

SISTEM EKONOMI YANG KRISIS
Tetapi analisis yang paling tepat menghunjam ke inti krisis ekonomi saat ini di AS serta implikasi bagi kelas pekerja ada dalam buku larya Fred Magdoff dan Michael Yates yang baru saja diterbitkan oleh “Monthly Review Press” dengan judul “ABC tentang Krisis Ekonomi : Apa yang harus difahami oleh Kelas Pekerja”.
Magdoff …dan Yates menjelaskannya dalam bukunya secara ringkas namun mudah dimengerti tentang faktor penyebab dan konsekuensi krisis ekonomi yang teramat parah sejak terjadinya Depressi Besar yang lalu. Mereka menunjukkan bahwa penyebabnya melekat pada ‘kematangan’ ekonomi kapitalis yang mendorong diperolehnya laba yang luar biasa besarnya, namun di lain pihak tidak tersedia permintaan terhadap hasil produksi yang mendorong diperolehnya surplus. Jadi ada ketimpangan antara penawaran dengan permintaan akibat rendahnya permintaan.

Untuk menunjang kondisi tersebut,-yaitu ketidakmampuan pertumbuhan produksi secara cepat dengan kemampuannya sendiri-, maka para pengendali/pemilik ‘surplus’ memindahkannya ke pasar uang, guna menciptakan kondisi ‘seolah-olah’ terjadi peningkatan yang luar biasa -‘gelembung’(gak pakai kata ‘balon’ karena bermakna lain di Surabaya)- dalam pasar modal dan ‘real estate’. “Gelembung itulah yang sekarang ‘meletus’ -‘doorr’, kayak lagu “Balonku ada lima” yang sering dinyanyikan oleh bocah-bocah – dengan dampak kerusakan ekonomi dan sosial dalam jangka panjang.
Meski sistem keuangan nyaris ambruk -dengan konsekuensi ‘turun tangan’ Pemerintah secara besar-besaran- konsekuensi yang terpenting dari krisis ini adalah keruntuhan ekonomi yang menimpa kelas pekerja dengan kelompok masyarakatnya. Hampir tujuh juta lapangan kerja hilang-musnah sejak terjadinya Resesi Besar dua tahun yang lalu.

Bagi pekerja, krisis akan berlangsung selama beberapa tahun, dengan prospek upah yang stagnan -bahkan merosotnya- upah dan semakin Magdoff dan Yates menandaskan bahwa hanya kelas pekerja yang terorganisasi yang mampu berjuang untuk mengubah ancaman tersebut. Bukunya juga nyata-nyata melemparkan pertanyaan : “apakah yang kita alami ini” dan “apa yang seharusnya kita perjuangkan”.

Mau kembali kepada ‘the status quo ante’ (status semula, yaitu neolib) sebagaimana resep yang ‘diracik’ oleh pemerintahan Obama dan para penguasa keuangan? Justru ‘resep’ itulah yang akan me-LANJUTKAN dan meningkatkan kesengsaraan sebagian besar rakyat! Seballiknya, apa yang harus kita perjuangkan adalah satu masyarakat yang menjamin setiap warganya,-paling tidak- dalam memperoleh jaminan perumahan, makanan sehat, layanan kesehatan, dan lingkungan yang bersih. Apabila hal ini tidak dapat dijangkau dalam sistem ekonomi ini, maka sudah waktunya kita merumuskan kembali cita-cita kita dan berjuang untuk mewujudkannya.

Posted in: Sosial