"2014 Malaysia Siap jadi Provinsi TERMUDA RI"

Posted on 6 Juli 2010

0


2014 Indonesia Tak Perlu Impor Alutsista Lagi
JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap tahun 2014, TNI tidak perlu lagi mengimpor alat utama sistem persenjataan (alutsista). Target tersebut akan terwujud apabila revitalisasi industri nasional berjalan sesuai rencana.
“Kita ingin melakukan revitalisasi nasional, indusri strategis, dan industri pertahanan. Dengan demikian dalam lima tahun medatang sebagian besar keperluan militer kita bisa dicukupi dari industri dalam negeri,” ujar SBY usai rapat dengan Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Mensesneg, dan Menkopolhukam di Jakarta, Rabu (4/11/2009).
Menurut SBY, sudah saatnya Indonesia mandiri dalam hal pemenuhan peralatan pertahanan. Jika itu terwujud maka dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap sendi kehidupan lain.
Dalam kaitan ini, Presiden optimistis target tersebut bakal terealisasi karena Indonesia sudah mulai terbebas dari dampak krisis tahun 1998. Dengan perencanaan strategis yang baik, managemen yang sehat, serta pendanaan yang memadai maka industri nasional Indonesia akan bergeliat.
“Kini saatnya kita kembali melakukan revitalisasi seluruh industri strategis, terutama industri pertahanan,” ujarnya.
“Pemerintah memberikan rangsangan kepada industri-industri strategis dengan ditandatanganinya MoU pembelian produk Alutsita yang seharusnya sudah dapat di produksi dalam negeri” tambah SBY
Tampaknya, pemerintah saat ini mulai gemar “memaksa” industri strategis untuk cepat berkembang dengan cara pembelian produk-produk alutsita strategis dalam negeri setelah melihat sukses PT. PINDAD dalam memproduksi Panser ANOA yang saat ini telah di pesan ribuan unit oleh berbagai negara.
Untuk PT. PAL, galangan plat merah ini telah berhasil “di paksa” pemerintah untuk memproduksi Korvet Sigma V dan Kapal Induk Flat Deck, kini PT. PAL dituntut untuk dapat memproduksi Kapal Selam kelas Kilo dengan order pertama sebanyak 12 Unit dari TNI-AL.
Sedang untuk PT. DI, pemerintah telah menghadiahkan pemesan Pesawat Tempur (fighter) sebanyak 50 unit dari 60 Unit dianggarkan, yang memaksa PT.DI bekerjasma dengan Korea Selatan untuk memproduksi pesawat T-50 Golden Eagle yang masih satu varian dengan F-16 Fighting Falcon, dengan menelan investasi 8 Milyar USD.
Sementara itu pada saat yang sama, juru bicara TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen mengatakan “sejalan dengan program Pemerintah, pada saat ini masih ada dua keinginan yang belum terlaksana, yaitu pembuatan Tank oleh PT. PINDAD, dan produksi Peluru Kendali jarak 1000 km dan 1500 km yang penelitiannya masih dilakukan oleh PT. PINDAD dan LAPAN”
“Untuk produksi Tank oleh PT. PINDAD, kita harus pahami keterlambatan tersebut, dikarenakan membanjirnya pesanan Panser ANOA, namun untuk Peluru Kendali, kami menargetkan 2020 produksinya telah siap dioperasikan” tambahnya
(Iman Rosidi/Trijaya/ANTARA)
Silahkan Malaysia menyerah tanpa syarat masuk kepelukan NKRI sebelum TNI membumi hanguskan semenanjung malaya……
Posted in: Sospol