Batal ke Bangkok, Wisman Pilih Bali

Posted on 8 Juli 2010

0


KOMPAS/ANTONY LEE
Sekitar 120 turis mancanegara yang menaiki kapal pesiar M/V Funchal merapat di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, Jumat (8/12/2006). Mereka disambut tarian kuda lumping 
JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) mencatat beralihnya wisatawan dari Thailand ke Indonesia belum dirasakan signifikan pasca-konflik internal di Bangkok, Thailand. “Peralihan wisatawan dari Bangkok ke Indonesia sampai saat ini tidak signifikan,” kata Sekretaris Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Winarno Sudjas, di Jakarta, Selasa (25/5/2010).
Satu dua mungkin saja ada yang beralih ke Indonesia tapi tidak signifikan.
— Winarno

Menurut dia, hal itu disebabkan karena pada umumnya perjalanan wisata sudah dijadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya atau dalam kontrak jangka panjang. Dengan begitu, kata dia, hampir tidak mungkin terjadi peralihan secara ekstrim wisatawan dari satu daerah ke daerah lain misalnya dari Thailand ke Indonesia.
“Satu dua mungkin saja ada yang beralih ke Indonesia tapi tidak signifikan,” kata Winarno.
Sebagian turis yang beralih dari Thailand ke Indonesia adalah turis asal Australia yang akan melakukan MICE (Meeting Incentive Conference and Exhibition). Turis-turis Australia itu mayoritas memilih Bali sebagai tujuan wisata utama.
Oleh karena itu, pada periode Januari-Maret 2010 kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia ke Pulau Dewata mengalami pertumbuhan 62,8 persen yang diperkirakan salah satunya akibat adanya pengalihan perjalanan wisman dari Thailand ke Bali.
Pada 2009, Bali menerima kunjungan turis Australia sebanyak 446.570 orang atau meningkat 42,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 313.111 orang.
Sementara itu pengamat dan pelaku bisnis pariwisata, Aselina Endang Trihastuti, mengaku belum merasakan adanya peralihan turis dari Thailand dalam jumlah yang signifikan.
“Meskipun kita bersimpati kepada negara tetangga, tapi kita harus bisa melihat bahwa ini peluang yang harus kita ambil. Indonesia harus cepat tanggap dan berani mengambil terobosan,” kata mantan Presiden Direktur PR Integrated Communications Consultants Natour Hotel Garuda Yogyakarta.
Pihaknya mengamati, sampai sejauh ini Indonesia cenderung tidak bergerak memanfaatkan peralihan turis dari Thailand. “Banyak turis yang kami pantau beralih ke Turki, Sri Lanka, dan India. Hampir tidak ada yang ke Indonesia,” katanya.
Menurut Aselina, semua pihak dan seluruh pemangku kepentingan sektor pariwisata harus duduk bersama untuk merumuskan blue print dan strategi pariwisata ke depan.
 Sumber:Antara

Posted in: Tak Berkategori