Tak Seharusnya Etnis Tionghoa Dimarginalkan

Posted on 13 Juli 2010

0


Lihat Kebudayaan Indonesia disini Etnis tionghoa di indonesia selalu menjadi kaum minoritas yang termarginalkan, setidakny pada masa orde baru. berbagai tindakan yang mengarah pada penganiayaan ras, kerap kali terjadi pada orang2 keturunan china yang umumny terwujud mulai dari pelecehan ringan yang berupa ejekan hingga pembantaian masal oleh pemerintah indonesia sendiri pada saat rezim orde baru berkuasa.
kondisi ini sungguh sangat memilukan bangsa indonesia. bagaimana pun juga, slogan ‘bhineka tunggal ika’ yang selalu diagung2kan selama ini, terbukti hanya omong kosong belaka. karena kenyataanny perbedaan ini bukan melahirkan kesatuan bangsa, justru sebalikny, melahirkan perpecahan dan penganiayaan ras2 minoritas oleh ras2 mayoritas.
padahal, kalo kita lihat ke belakang, tidak sedikit kebudayaan kita yang merupakan hasil asimiliasi budaya antara budaya china dan budaya asli indonesia, khususny budaya di pulau jawa. tengoklah seni budaya barongan yang tidak lain adalah penjelmaan dari seni budaya barong yang telah lama dikenal dan dimainkan di negeri tirai bambu tersebut. selain itu, asimilasi budaya ini juga terlihat cukup jelas pada upacara pemakaman dan perayaan hari2 besar agama islam di indonesia.
lebih jauh kita lihat ke belakang, orang2 china dan keturunan china pada zaman dulu juga ikut terlibat pada perang melawan belanda di indonesia jauh sebelum munculny budi utomo. salah satu contohny, tengoklah perang pangeran diponegoro melawan penjajah belanda. sebagian besar pasukan yang dimiliki sang pangeran, ternyata terdiri dari orang2 china dan keturunan china.
bila kita menengok lebih jauh lagi ke belakang, ada 1 kenyataan menarik lainnya tentang orang2 china yang mendarat di pulau jawa. ternyata, agama islam di pulau jawa, pada zaman dahulu, diperkenalkan dan disebarkan oleh orang2 china yang berdagang ke indonesia. salah satu cerita terkenal dari kenyataan ini adalah perjalanan laksamana cheng ho yang selain berdagang ke indonesia, juga sangat berjasa dalam memperkenalkan dan menyebarkan islam kepada pribumi pulau jawa yang mayoritas pendudukny pada saat itu masih beragama hindu dan budha.
tak seharusny etnis tionghoa dimarginalkan. karena bagaimana pun juga, mereka merupakan bagian dari kebudayaan kita, bagian dari perjuangan kita dalam melawan penjajah belanda, dan bagian dari menyebarny agama islam di pulau jawa. seharusny kita merangkul mereka, bukan malah menyudutkan mereka. terlebih lagi karena slogan negara kita yang ‘meskipun berbeda, tetapi tetap satu jua’, membuat kita seharusny melihat mereka sebagai satu kesatuan utuh dari bangsa kita.
catatan: postingan ini beberapa sumberny diambil dari buku ‘tionghoa dalam pusaran politik‘ karya benny g setiono yang diterbitkan oleh transmedia pustaka. lantaran tadi cuman baca sekilas di toko buku, beberapa contoh kasus tidak bisa dipaparkan secara lengkap. mau beli sendiri, mahal buanget hargany, 200 ribu. kalo ada yang mau beliin, sangat bersyukur sekali. karena kebetulan kasus termarginalkanny etnis tionghoa di indonesia, sangat menarik minatku sejak 2 tahun yang lalu. setelah nyari cukup lama, akhirny buku ini lah yang bisa menjawab segala pertanyaanku tentang kasus ini.
dikutip dari coretankelambu