Menjelajah Bukit dengan Flying Fox

Posted on 13 Oktober 2010

0



Wow, Hebohnya Menjelajah Bukit dengan Flying Fox

image

Oleh Bambang Iss
MEMACU adrenalin tempatnya bisa di mana pun, terutama di tempat yang penuh tantangan. Bisa secara alamiah maupun yang artifisial. Yang bikinan atau rekayasa manusia contohnya adalah flying fox, yakni sejenis olahraga permainan yang menguji keberanian seseorang.
Perkembangan wahana flying fox di Indonsesia sejak beberapa tahun terakhir ini cukup pesat. Di Jawa Tengah sendiri, wahana ini ada di hampir setiap resor wisata. Sebut saja di Kopeng, Salatiga, Sidomukti, Kab Semarang, Sekatul Kab Kendal, dan beberapa tempat yang secara alami memungkinkan untuk dibuat wahana flying fox, yakni kawasan yang berbukit.
Flying fox adalah aktivitas terbang luncur, persisnya adalah sebuah aktivitas yang lebih pas disebut sebagai permainan atau hobi yang mengandalkan alat bantu seperti kabel sling dan tali pengaman (harnes full body) yang dikaitkan penuh di badan pemakainya.
Flying fox memang tergantung dengan kondisi perbukitan. Yakni harus berada di antara dua perbukitan, lantas kedua bukit dihubungkan dengan kabel sling sebagai sarana luncur.
Di jalur yang menghubungkan kota Boyolali dengan Magelang persisnya lewat tikungan Irung Petruk di sela-sela gunung Merapi dan Merbabu, wahana flying fox yang konon memiliki lintasan paling panjang di Indonesia, yakni 350 m. “Kabel di sini lebih panjang dari yang ada di Ancol Jakarta yang hanya 250 m,” kata Agus Arifin, penjaga flying fox Irung Petruk Boylali saat ditemui CyberNews di tempat permainan. Menurut dia, bisa jadi panjang kabel di Irung Petruk ini kabel flying fox terpanjang di Indonesia.
Kembali modal
Berdiri sejak 2006, wahana permainan ini dibangun oleh Agus Arifin bersama teman-temannya, seperti Untung, Taryono, Budi Harsono dan Rudi Herman. Ketika itu anak-anak muda pecinta alam ini dibantu oleh disparbud (Dinas Pariwisata dan Budaya) Kab. Boyolali untuk pengurusan izin, sewa tempat dan perpajakan.
Sementara untuk produksi seperti mengurus perizinan, pajak dan membeli peralatan, mereka membutuhkan Rp 120 juta. Ini untuk pembelian properti yang dibutuhkan sebagaimana kelengkapan flying fox. Seperti kabel sling baja berdiameter 12 mm, hanes full body, pule tandem (2 roda), pule engkel (1 roda), dan wibbing. “Itu adakah perlengkapan standar yang dibutuhkan untuk permainan ini,” kata Agus yang megaku sejak berdiri sampai 2010 ini usahanya itu sudah kembali modal. 
Flying fox Irung Petruk banyak diminati tidak saja oleh orang dewasa, tapi juga anak-anak. “Pemakai yang paling kecil anak seusia 4 tahun dan yang paling tua 70 tahun,” kata Agus Arifin. Menurut dia, penggunanya paling banyak adalah remaja yang suka dengan tantangan.
Karena itu olahraga permainan ini seru, heboh dan penuh histeria.
Sekali luncur pemakai membayar Rp 20 ribu. Untuk sebuah pengalaman dramatis, harga ini tentu tidak terlalu mahal. Karena pengalaman menikmati sensasi meluncur di dari bukit satu ke bukit lain.
Tidak takut celaka? “Alhamdulillah, sampai sekarang belum pernah ada yang celaka, karena perlatan kami standar internasional untuk flying fox,” kata Agus Arifin.
Ingin coba sensasi menjelajah perbukitan bergantung di kabel sling? Coba saja flying fox. Dijamin pasti seru dan heboh.

(/Bambang Iss)

Posted in: Wisata